Menu

Perayaan 150 tahun Ordo Santa Ursula Surabaya. Dalam rangka Perayaan 150 tahun Ordo Santa Ursula berkarya di Surabaya diadakanlah berbagai kegiatan,

Sabtu, 28 September 2013. Dalam rangka Perayaan 150 tahun Ordo Santa Ursula berkarya di Surabaya diadakanlah berbagai kegiatan mulai dari kegiatan bakti sosial , donor darah, pengobatan gratis, sumbangan untuk siswa-siswi yang tidak mampu, kegiatan lingkungan hidup, perlombaan sepakbola antar siswa yang menjadi agenda tahunan Sekolah Santa Maria yaitu Sanmar Cup V tahun 2013.

TUJUAN KEGIATAN.
1. Bersyukur atas berkat Tuhan yang telah dilimpahkan kepada para Suster pendahulu.
2. Meneruskan semangat para Suster Pendahulu dalam melayani masyarakat Surabaya di bidang pendidikan formal. Mendidik siswa-siswi dengan semangat Serviam.
3. Meneruskan semangat misioner dari para Suster pendahulu dengan memperhatikan orang kecil dan miskin.
4. Membangkitkan semangat SERVIAM di hati para alumni sehingga mereka dapat menjadi perpanjangan tangan para Suster Ursulin yang berkarya saat ini.

Sambutan dari Sr. Cecile Marijanti, OSU.

Tarian dari siswa SD.

Pelepasan merpati sebagai tanda dimulainya Sanmar Cup 2013.

Pelepasan balon sebagai tanda dimulainya Sanmar Cup 2013.

Berikut ini sejarah singkat mengenai karya Ursulin di Surabaya.

Pada tanggal 24 Oktober 1857, berangkatlah tujuh Suster Ursulin dari biara Sittard dan Venray di Nederland menuju Batavia. Mereka adalah romgbongan Ursulin kedua yang berangkat ke Nusantara. Tanggal 6 April 1858, mereka tiba dengan selamat di pelabuhan Tanjung Priuk, Batavia. Mereka tinggal di biara pertama yaitu Noordwijk No. 29 (Jl. Ir. Haji Juanda) dan setibanya di Batavia mereka langsung bertugas sebagai Guru. Rupanya kehadiran Ursulin di Batavia dan pelayanan mereka sebagai guru begitu baik dan terdengar sampai di Surabaya. Maka dua Romo Yesuit yang bernama Van Den Elzen, SJ dan J.B. Pallincks, SJ, mendesak Pemimpin Biara Noordwijk dan Weltevreden mengirim tenaga Ursulin ke Surabaya. Permintaan mereka dikabulkan dan Pemimpin Noordwijk dan Weltevreden  mengutus lima Suster Ursulin untuk berangkat ke Surabaya.

Pada tanggal 3 Oktober 1863, mereka berangkat ke Surabaya dan memakai kapal layar “ZEPHYR”. Setelah berlayar selama 10 hari, akhirnya pada tanggal 14 Oktober 1863, mereka tiba dengan selamat di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Setiba di Surabaya, mereka tinggal di Jl. Krembangan yang diantar oleh Rm. Van Den Elzen, SJ. Tidak lama kemudian, Rm. Van Den Elzen, SJ, mendengar bahwa hotel “COMMERCE” akan dijual dengan harga 40.000 gulden. Dengan susah payah para Suster, Romo, umat Katolik serta biara Batavia bergotong royong mengumpulkan uang untuk membeli hotel tersebut karena sangat cocok untuk dijadikan biara dan sekolah. Selain itu, letaknya dekat dengan Gereja dan berada dalam lingkungan yang baik. Akhirnya, hotel tersebut dapat dibeli. Dengan segera para Suster pindah dari Jl. Krembangan ke Tempelstraat yang sekarang disebut daerah kepanjen.

Sekolah pertama dibuka pada tanggal 3 November 1864 yang dimulai dengan 21 murid dan semakin hari semakin berkembang sampai hari ini. Semua ini dapat terjadi karena berkat Tuhan. Namun dengan adanya Perang Dunia II, sebanyak 68 Suster meninggal sehingga tenaga semakin berkurang. Maka pada tanggal 30 Juni 1950, para Suster Ursulin dengan berat hati menyerahkan biara dan sekolah di Kepanjen kepada konggregrasi SPM dan Frater BHK.

Pada tanggal 27 Februari 1920, para Ursulin membeli sebidang tanah di Jl. Raya Kupang, sekarang Jl. Raya Darmo dengan tujuan mendirikan HBS (Sekolah Menengah) dan sampai hari ini para Suster Ursulin masih hadir dan berkarya di bidang pendidikan formal untuk tingkat TB/TK/SD/SMP/SMA Santa Maria dengan motto SERVIAM. Buah kerasulan dari Surabaya menghasilkan kerasulan di Malang, Madiun, Pacet dan Timor Leste.

 

Bermain adalah hak anak. Hak ini kerap terlupakan karena dianggap tidak penting. Padahal, dari bermain orang tua akan melihat perkembangan anak.Bermain merupakan suatu kegiatan yang bersifat intrinsik. Artinya, sudah melekat pada anak dengan sendirinya. Sejak bayi, perilaku ini sudah muncul.

Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani yaitu skho·le´ yg berarti “waktu terluang”. Namun dapat juga diartikan menggunakan waktu luang untuk kegiatan belajar. Belakangan kata ini digunakan untuk menunjukkan tempat diselenggarakan kegiatan belajar.

Pendidikan Karakter Melalui Filateli.
“Perangko merupakan bukti gambaran peristiwa yang tidak terbantahkan, bisa dijadikan ajang pembelajaran anak-anak”  demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Filateli Indonesia, Soeyono, di Kantor Kemdikbud.

Makna pendidikan secara sederhana dapat di artikan sebagai usaha manusia untuk membina jati dirinya, membina jati dirinya itu harus sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaanya. Sekalipun dalam keadaan sederhana peradaban manusia dan masyarakat di dalamnya..

.